Sabtu, 09 April 2016
Masyarakat Baliem Center Lakukan Aksi Galang Dana
Wamena Weneh: Sebagai wujud partisipasi masyarakat mengupayakan berdirinya Daerah Otonom Baru (DOB) Kabupaten Baliem Center, ribuan masyarakat yang nantinya masuk dalam wilayah Baliem Center melakukan aksi penggalangan dana.
Penggalangan dana ini dilakukan di sekretariat tim pembentukan DOB Baliem Center di Wamena, Kamis (24/3/2016) dengan melakukan bakar batu yang merupakan hasil sumbangan masyarakat dari 10 distrik yaitu empat distrik yang kini masuk di kabupaten induk Lanny Jaya dan enam distrik di Kabupaten Tolikara.
“Aksi ini dalam rangka penggalangan dana dari tim dan seluruh rakyat Baliem Center, karena pada tanggal 5 April 2016 nanti akan ada pembukaan sidang di DPR RI untuk pembentukan DOB Baliem Center dan 65 DOB lainya. Aksi ini melibatkan masyarakat di wilayah Baliem Center, dari kabupaten induk Tolikara enam distrik, kabupaten Lanny Jaya ada empat distrik jadi semua sepuluh distrik. Penggalangan dana ini sudah berkali-kali kami lakukan dari 2008 sampai hari ini,” kata ketua tim kerja pembentukan DOB Baliem Center, Agus Wenda kepada wartawan.
Dengan perkembangan yang ada saat ini, ketua tim kerja pembentukan DOB Baliem Center, Agus Wenda berharap pada bulan April nanti ada titik terang tentang pembentukan daerah otonom baru ini.
“Berdasarkan hasil rapat tanggal 29 Februari 2016 tingkat pemerintah pusat dan DPR RI sudah selesai, dilanjutkan dengan hasil rapat koordinasi dengan pemerintah dengan DPD RI bulan Maret 2016, sehingga kami harapkan bulan depan ada kejelasan tentang perjuangan ini,” tegasnya.
Menurut Agus Wenda, tujuan didirikannya DOB ini tidak lain hanya untuk pembangunan, kesejahteraan rakyat, memperpendek rentang kendali pemerintahan.
“Jika DOB ini jadi, maka masyarakat Baliem Center akan dilibatkan dalam pembangunan nantinya. Kami harapkan seluruh rakyat itu mereka terlibat dari awal, dalam pembentukan kabupaten ini, sehingga dalam pembangunan juga terlibat. Untuk itu, kami tim sudah bentuk suku masing-masing, sehingga jika ada masalah, persoalan, hambatan yang terjadi jika kabupaten datang, nanti bukan pemerintah yang menangani tetapi melalui keluarga-keluarga atau suku itu mereka berikan
sendiri,” katanya.
sendiri,” katanya.
Sementara tokoh masyarakat Baliem Center, Albert Kogoya berharap kepada masyarakat dan pemuda-pemuda yang akan menjadi penerus program pemerintah ke depan, dapat terus mendukung pendirian kabupaten Baliem Center ini.
“Selaku orang tua, harapan saya agar anak-anak Baliem Center mempunyai pekerjaan untuk masyarakat dari masyarakat itu sendiri. Dengan adanya kabupaten baru ini dapat mendekatkan masyarakat dengan pemerintah, karena selama ini sangat jauh untuk ke ibukota kabupaten induk,” ungkap Albert Kogoya.
WARGA OKIKA DI JAYAWIJAYA TOLAK PEMEKARAN
Wamenah Weneh . Rencana pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) Okina di Kabupaten Jayawijaya, mendapatkan penolakan dari warga Kurulu, yang rencananya wilayahnya akan menjadi ibukota Kabupaten Okika. Masyarakat tak ingin wilayah adatnya menjadi ibukota Kabupaten Okika.
“Salah satunya, masyarakat belum siap menghadapi arus globalisasi yang otomatis akan masuk ke kampung mereka dan akan meminggirkan masyarakat adat setempat,” kata Boni Alua, Juru bicara Tim Penolakan Daerah Otonomi Baru (DOB) Okika di Kabupaten Jayawijaya, di Grand Abe Hotel, Abepura, Kota Jayapura, Kamis (27/2).
Menurut Boni pemekaran bukanlah ide murni masyarakat Okika,tetapi ide elite lokal yang kecewa karena kalah di pertarungan politik pada tahun 2008 lalu.
Kamis, 31 Maret 2016
Pagelaran Budaya di Bumi Cendrawasih
Papua: Kepala Taman Budaya Provinsi Papua,
Drs Aloysius Y Nafurbenan secara resmi menutup kegiatan pagelaran Seni dan Budaya Papua yang dilaksanakan oleh Direktorat Pembinaan Kesenian dan Perfilman, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia di Taman Budaya Ekspo Wamena, Distrik Heram, Kota Jayapura.
Acara penutupan pagelaran Seni Budaya Papua, pada Selasa 19 November 2013 tersebut dihadiri langsung Kasubdit Direktorat Pembinaan Kesenanian dan Perfilman, Drs Pustanto dan seluruh Kepala Taman Budaya Se-Indonesia.
Pagelaran Seni Budaya Papua ini awal mulainya dibuka langsung oleh Asisten II Setda Provinsi Papua, Drs Elia Ibrahim Loupatty mewakili Gubernur Provinsi Papua, Lukas Enembe, pada Minggu 17 November 2013 yang lalu. Di sini para seniman Papua memamerkan kesenian dan budaya Papua. Dengan harapan ke depannya kegiatan tersebut dapat terus ditingkatkan, sehingga budaya-budaya tidak pernah punah dan tetap digelar setiap ada event-event di daerah Provinsi Papua maupun di daerah Kabupaten/Kota.
Acara yang berlangsung selama 3 hari tersebut terdiri dari 7 kabupaten dengan memperagakan 14 sanggar seni di antaranya, Sanggar Seni Honong dari Wamena, Black Paradise dari Dok IX, Distrik Jayapura Utara, Sanggar Seni Olah Seni Jayapura, Tari Tradisional dari Kabupaten Pegunungan Bintang, Sanggar Seni Marising Jayapura, Tari Tradisional Suku Ansus, Sanggar Seni Musik Tabi,Tari Tradisional Kampung Kayu Batu, Tari Tradisional Maybrat Papua Barat, dan Tari Tradisional Kampung Asei Pulau.
Acara seperti ini harus sering dilakukan untuk kembali mengingatkan tentang keragaman budaya yang dimiliki bumi cenderawasih. (Dewi Sartika/mar)
Dewi Sartika adalah pewarta warga.
Mulai 18 November-29 November ini, Citizen6 mengadakan program menulis bertopik "Guruku Idolaku". Dapatkan merchandise menarik dari Liputan6.com bagi 6 artikel terpilih. Syarat dan ketentuan bisa disimak di sini.
Anda juga bisa mengirimkan artikel disertai foto seputar kegiatan komunitas atau opini Anda tentang politik, kesehatan, keuangan, wisata, social media dan lainnya.
`Hidup Selalu Bukan Soal Cinta` di Papua Berkisah dan mempublikasi
Evaline Maria Tibul adalah gadis berdarah Papua yang lahir dan besar di Jakarta. Walau hidup sederhana dengan upah tak seberapa sebagai petugas kasir sebuah minimarket, Eva amat menikmati hidup di Jakarta. Gaya hidup dan cara bicara Eva pun tak beda dengan anak-anak muda ibukota lainnya. Ngobrol dengan bahasa gaul, men-smoothing rambut kribonya, dan menjadi pendukung setia Persija adalah sebagian cara Eva untuk menjadi bagian dari kota metropolitan itu.
Eva bergabung dengan Jakmania bukan karena dia gila sepakbola. Bagi Eva, menjadi anggota Jakmania adalah identitasnya sebagai anak Jakarta.
Tak heran, Eva menolak habis-habisan ketika Saulus Tibul, ayahnya, mengajak pulang ke Wamena, Papua. Alasannya, sepeninggal Lisa, ibu Eva yang belum lama meninggal karena penyakit demam berdarah, Saulus merasa kesepian dan rindu kampung halamannya. Eva tidak bisa membayangkan harus meninggalkan sahabat, pacar, dan pekerjaannya (ia baru saja dinobatkan sebagai Employee of The Month dan akan dipromosikan!). Lagipula, ia akan sangat merindukan hiruk-pikuknya Jakarta. Ya, meski berdarah Papua, bagi Eva Jakarta adalah tanah kelahirannya.
Tapi, tak mampu melawan kemauan keras Saulus, Eva terpaksa bersedia ikut pulang ke Papua. Saulus membawa Eva naik taksi miliknya ke Surabaya, lalu menitipkan kendaraan itu pada puteranya di sana. Dari pelabuhan Tanjung Perak, mereka berdua melanjutkan perjalanan dengan kapal laut menuju pelabuhan Jayapura.
Sepanjang perjalanan Jakarta-Jayapura, ayah dan anak ini berhadapan dengan bermacam-macam orang juga peristiwa, yang pasti jadi pelajaran berharga. Mulai dari berjumpa orang baik, orang jahat, bahkan orang jahat berkedok baik. Mulai dari ditipu orang sampai semua uang simpanan ludes, berkali-kali bertengkar lalu baikan ala ayah-anak, ketinggalan kapal di pelabuhan Nabire, sampai tersesat di kota tak dikenal.
Akankah semua rintangan itu mengokohkan lagi ikatan kasih sayang antara Saulus dan Eva yang sempat renggang, atau malah sebaliknya? Mungkinkah Saulus membatalkan niatnya menetap di Papua setelah tahu puterinya diam-diam punya rencana sendiri untuk kembali ke Jakarta?
Entah mengapa, saya merasa sedikit kesulitan menemukan novel bagus bertema keluarga di antara sekian banyak novel asmara yang membanjiri toko buku. Makanya, saya segera tertarik saat melihat sinopsis Papua Berkisah, di mana konflik orangtua-anak antara Saulus dan Eva tampak 'menjanjikan' keseruan serta keharuan.
Membaca Papua Berkisah, kita bisa melihat gap antara dua generasi, yang memang sering terjadi dalam kehidupan nyata. Saulus, yang menghabiskan masa remajanya di tanah Papua, prihatin betapa Eva sama sekali tidak tertarik untuk mengetahui akar budayanya yang kaya; membuat masakan Papua tak bisa, bahasa Papua pun tak paham. Sebaliknya, puterinya itu malah larut dalam budaya kota metropolitan masa kini, yang dianggapnya budaya instan dan kurang menghargai proses.
Anak muda zaman sekarang terlalu cepat menginginkan hubungan mereka berhasil, tanpa mau berusaha keras untuk memperbaiki bila salah satu pihak atau malah keduanya, melakukan kesalahan.
Orang zaman sekarang mudah sekali membuang barang. Rusak sedikit saja dibuang untuk kemudian membeli yang baru. Sementara, zaman Saulus muda dulu, orang terbiasa memperbaiki barang yang rusak. Saulus yakin sikap ini ada pengaruhnya terhadap cara orang zaman sekarang menyikapi hubungan asmara mereka.
Omong-omong soal Papua, satu hal yang pertama kali bikin saya tertarik sama buku ini adalah judulnya, yang menyebut salah satu propinsi di Indonesia bagian timur itu. Selama ini sudah banyak sekali novel yang "Jakarta-sentris", atau paling-paling bergeser sedikit ber-setting Bandung, Yogya atau Solo.
Menurut saya, kita butuh buku-buku dengan latar budaya lain yang berbeda dan menyegarkan. Maksud saya, halooo? Indonesia punya 34 propinsi lho. Tiap propinsi pastinya punya budaya unik yang belum tentu semua orang tahu. Entah saya yang kurang update sama novel-novel berlatar budaya atau memang masih belum banyak pengarang yang menggunakan latar budaya daerahnya dalam menulis.
Gempa di Malang Guncang Gunung Raung

Gempa berkekuatan 6,3 Skala Richter mengguncang Kabupaten Malang,
Badan Penanggulangan dan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang telah memantau di wilayah terdekat lokasi gempa, untuk memastikan dampak yang ditimbulkan akibat gempa ini.
"Alhamdulillah, tidak ada kerusakan apa pun di wilayah terdekat titik gempa di kawasan Sendangbiru. Kami dan tim relawan di beberapa wilayah telah memantau kawasan sekitar," kata Kepala Bidang Logistik dan Kedaruratan BPBD Kabupaten Malang Bagyo Setyono, Malang, Jawa Timur, Minggu (26/7/2015).
Bagyo mengatakan, pihaknya mendapat laporan guncangan akibat gempa dirasakan hingga di kawasan Gunung RaungGunung Raung. Kendati, gempa yang berada di 122,54 kilometer dari Pantai Sendangbiru, Sumbermanjing Wetan, Malang ini diyakini tidak mengakibatkan tsunami.
"Dari informasi yang saya dapat tidak ada potensi tsunami," tutur dia.
BPBD Kabupaten Malang bersama tim relawan di kawasan sekitar titik lokasi gempa, akan terus memantau pascagempa melalui komunikas radio. Tujuannya, memastikan tidak ada kerusakan yang ditimbulkan.
"Kami tetap berkomunikasi melalui radio dan telepon dengan relawan untuk memastikan bahwa benar-benar tidak ada kerusakan," pungkas Bagyo.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan, gempa berkekuatan 6,3 skala Richter mengguncang Kabupaten Malang, Jawa Timur pada pukul 14.05 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melansir gempa berkedalaman 10 kilometer di Samudera Hindia itu terjadi di 150 km barat daya Kabupaten Malang.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, titik gempa tersebut dikelilingi 4 kota besar, yakni di 150 km Barat Daya Kabupaten Malang, 163 km Tenggara Kabupaten Blitar, 168 km Barat Daya Lumajang, dan 253 km Barat Daya Surabaya.
Gempa juga melanda Ciamis, Jawa Barat pada Sabtu kemarin 25 Juli 2015. Gempa berkekuatan 5,7 skala Richter ini terjadi pukul 04:44:39 WIB. Pusat gempa ada di 10 km atau 111 km Tenggara Ciamis, Jawa Barat.
Gempa ini juga dirasakan hingga ke 15 kota lainnya di Pulau Jawa, di antaranya Tasikmalaya, Kota Ciamis, Cilacap, Kebumen, Purworejo, Purbalingga, Kota Yogyakarta, Gunungkidul, Bantul, Prambanan Klaten, Solo, Magelang, Wonogiri, Pacitan, dan Ponorogo. (Rmn/Ans)
DPR Papua Tolak Pembangunan Mako Brimob di Wamena
Jayapura - DPR Papua menolak pembangunan Markas Komando (Mako) Brimob di Wamena, Kabupaten Jayawijaya. Ketua DPRP Yunus Wonda mengatakan, dalam waktu dekat pihaknya akan membawa surat penolakan tersebut kepada Presiden Joko Widodo.
"Belum saatnya kita membicarakan pembangunan Mako Brimob di Wamena. Sebab kami tahu persis permasalahan yang akan terjadi setelah Mako ini terbentuk. Sehingga kami dengan tegas menolak pembangunan markas Brimob di Wamena," kata Yunus, Jayapura, Selasa (27/1/2015)
Apalagi selama ini pendekatan aparat keamanan kepada masyarakat Papua sudah keliru. "Aparat selalu menilai kami negatif dan masyarakat terus dalam keadaan tertekan oleh kehadiran aparat," ucap dia.
Penolakan Mako Brimob di Wamena juga ditolak oleh sekitar 100 perwakilan mahasiswa, pemuda dan masyarakat Jayawijaya. Massa berunjukrasa di Kantor DPR Papua siang kemarin.
Dalam unjuk rasa tersebut massa membentangkan 2 spanduk besar yang isinya penolakan pembangunan Mako Brimob tersebut.
"Pembangunan Mako Brimob tidak menjamin tidak terjadinya lagi penyiksaan, pembantaian, sebab kebanyakan aparat yang bertugas di Papua tidak mengetahui adat dan budaya masyarakat setempat," kata Vero Hubi, salah satu pendemo. (Rmn)
Popular Posts
-
PAPUA . Apa yang terlintas di balik benak Anda ketika mendengarkan nama ini? Sebuah pulau yang masih dihuni oleh orang-orang papua ...
-
Wamenah Weneh . Rencana pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) Okina di Kabupaten Jayawijaya, mendapatkan penolakan dari warga Kurulu, ya...
-
W amena Weneh – Mahasiswa Jayawijaya di Jayapura yang tergabung dalam Keluarga Besar Ikatan Distrik Karulu (IKDK), HMPJ, AMPTIPI dan PM...
-
Salomina Wandikbo Meniti Perjuangan Putri Papua Meniti Pendidikan Liputan6.com, m , Wamena: Cita-cita perjuangan para pemuda dulu untu...












